![]() |
| Pemeriksaan DNA dianggap sebagai pemeriksaan identitas yang paling valid |
Pada kasus
kematian atau kecelakaan dengan korban tidak dikenal, salah satu tugas yang harus dilakukan
oleh tim penyidik adalah menentukan identitas korban. Ahli yang diminta bantuannya untuk
melakukan identifikasi personal adalah dokter spesialis kedokteran forensik
yang biasanya dibantu oleh ahli forensik lainnya, seperti ahli antropologi
forensik, ahli odontologi forensik,
dan ahli DNA. Pada prisipnya, identifikasi personal pada korban meninggal
adalah serangkaian tindakan pembandingan data hasil pemeriksaan terhadap mayat
(Data Postmortem) dengan data
tersangka korban saat masih hidup (Data Antemortem).
Dokter yang diminta bantuannya untuk melakukan identifikasi korban akan
melakukan serangkaian pemeriksaan luar maupun dalam dari tubuh mayat serta beberapa
pemeriksaan Laboratorium jika diperlukan. Disini keterampilan dokter pemeriksa
diuji. Semakin tinggi pengetahuan dan pengalamannya, akan semakin banyak data
Postmortem yang dapat digali dan dikumpulkannya. Data ini kemudian akan
dibandingkan dengan data tersangka korban yang diperoleh dari keluarga, rekam
medis, rekam medis gigi, data polisi dan sebagainya. Adanya kesesuaian data
antemortem dan data postmortem akan mempersempit jumlah tersangka korban dan
akan semakin memperkuat dugaan bahwa tersangka korban adalah korban yang sebenarnya.
Sebaliknya adanya satu data yang tidak sesuai akan menyebabkan tersangka korban
tersebut dicoret dari daftar tersangka korban.







